Seorang Leader Haruslah “Humble”

Mengutip dari acara sharing session dengan HR Director kami Pak julius aslan tentang leadership, beliau menyampaikan bahwa seorang leader haruslah mempunyai karakteristik “ HUMBLE” . Saya coba mengutip kembali yang beliau sampaikan dan merangkai dengan penambahan redaksional sebagai berikut: H […]

Sekilas insight dari HR di perusahaan mining

Tak terasa sudah 1 tahun saya bekerja di salah satu perusahaan tambang terbesar di Indonesia setelah  sebelumnya kurang lebih 6 tahun sebagai HR di 2 perusahaan FMCG. Dalam career line yang sama sebagai seorang Human Resources (HR) dengan segmen bisnis […]

Apa alasan utama karyawan Resign?

Resign adalah keputusan terakhir ketika sudah tidak ada titik temu antara espektasi perusahaan dan espektasi karyawan. Bagi karyawan tentunya bukanlah sesuatu yang mudah untuk memutuskan resign apalagi status yang sudah karyawan tetap, masa kerja yang sudah lama, dengan posisi dan […]

3 Jenis investasi untuk sukses

“ Kebaikan satu-satunya investasi yang tidak akan pernah gagal” Investasi dalam hidup tidak hanya property, deposito, reksadana ataupun yang berkaitan dengan materi/harta lainnya. Jika kita ingin menjadi seseorang pribadi yang sukses dalam profesional di bidang apapun yang kita geluti saat […]

3 Teknik evaluasi diri secara sederhana

“Good leader always do self assessment periodically….this will bring the values of being humble and always want to learn”   Mengevaluasi diri (Self-Assessment) mutlak diperlukan kita semua untuk sukses dalam kehidupan profesional di dunia kerja atau pun dalam kehidupan pribadi. […]

 

Seorang Leader Haruslah “Humble”

Mengutip dari acara sharing session dengan HR Director kami Pak julius aslan tentang leadership, beliau menyampaikan bahwa seorang leader haruslah mempunyai karakteristik “ HUMBLE” . Saya coba mengutip kembali yang beliau sampaikan dan merangkai dengan penambahan redaksional sebagai berikut:

mgyQl98

Picture: http://www.rgbstock.com/images/leader

H : Humble

Seorang leader haruslah humble = rendah hati, dia bisa masuk ke semua line dan lapisan strata/level dalam sebuah organisasi. Sekalipun seorang memiliki visi yang kuat, kemampuan memotivasi yang tinggi serta integritas yang tidak diragukan, bila ia arogan dan berlebih lagi tidak mau mendengarkan para pengikutnya, maka lambat laun para pengikutnya akan merasa frustasi karena merasa hanya diperlakukan sebagai obyek yang hanya memuaskan keinginan sang pemimpin tanpa diberi kesempatan untuk menyampaikan aspirasinya. Seperti halnya pepatah jadilah seperti padi semakan tinggi semakin merunduk, demikian pula semakin tinggi jabatan kita semakin kita humble kepada sesama.

U: Un Populer

Ketenaran dan populeritas terkadang menjadi tujuan utama dibanding tujuan atau tindakan yang selayaknya dilakukan oleh seorang leader. Hal ini sering membuat seorang leader membuat pengecualian –pengecualian dikarena takut tidak populer. Padahal merupakan sebuah konsekuensi bagi seorang leader apabila memang kebijakan yang akan diambil sesuai dengan prosedur dan tujuan organsasi maka dia harus siap tidak populer dan inilah sebenarnya kemampuan komunikasi dan management perubahan seorang leader di uji.

M: Manage by Macro

Seorang leader harus melihat secara macro atau yang biasa kita kenal sebagai kemampuan ‘Helicopter View’. Artinya seorang pemimpin harus menaikkan pandangan untuk melihat banyak sudut pandang (komprehensif) setiap masalah di organisasinya. Melihat lebih banyak keinginan-keinginan  orang lain yang tersirat maupun yang tersurat. Sehingga kebijakan atau keputusan yang diambil dapat diterima banyak pihak.

B: Be Your Self but Better Everyday

Saya mengutip dari motto seorang HR Director yang menginspirasi saya yaitu Pak Joseph Bataona (http://www.portalhr.com/blog/josefbataona/) bahwa pribadi seorang leader harus menjadi diri sendiri dan selalu melakukan yang terbaik untuk hari ini demi menyongsong hari esok yang jauh lebih baik.

L: Lead by  Example

Seorang leader harus menjadi contoh yang baik dari teamnya dan menurut saya ini yang saat ini sulit kita ketemukan. Lahirnya seorang leader yang inspiratif adalah mereka yang bisa memberikan contoh yang baik kepada teamnya dari aspek manapun yang terintegrasi dalam profil kepribadiannya.

E: Ethics

Moral dan etika adalah pondasi dalam kepemimpinan, seperti halnya dalam buku kubik leadership yang saya baca bahwa moral seperti akar tanaman yang membawa nutrisi dan unsur hara yang akan tercermin dalam action dan hasil yang dituai.

Semoga kita menjadi leader yang humble dalam semua aspek kehidupan dimanapun kita berkarya! (RH, Tanjung 16/03/2015)

Sekilas insight dari HR di perusahaan mining

Tak terasa sudah 1 tahun saya bekerja di salah satu perusahaan tambang terbesar di Indonesia setelah  sebelumnya kurang lebih 6 tahun sebagai HR di 2 perusahaan FMCG. Dalam career line yang sama sebagai seorang Human Resources (HR) dengan segmen bisnis  dan aspek lainnya yang berbeda, ada beberapa hal perbedaan yang akan saya sharing sebagai bahan diskusi dan referensi dari  insight pribadi HR antara perusahaan tambang dan di FMCG/Manufactur:

miners-379775_1280
  •  Compensation Benefit

Dari aspek ini tentunya kita tahu kenapa bahwa dari segi benefit perusahaan tambang dengan pay point (PP) 85 -95% dan manufactur sendiri berada di PP 75% dari market. Disamping itu karena lokasi yang sebagian besar di remote area ada beberapa fasilitas lain sebagai skema untuk me-retain dan me-attract karyawan dari luar daerah seperti mess/tunjangan perumahan, tiket atau sarana transportasi darat. Belum lagi bonus yang wah……..dan terlebih umumnya semua pajak pendapatan kita ditanggung perusahaan sehingga yang kita dapatkan adalah nett.

 Namun aspek ini terkadang membuat sebagai pekerja tambang sulit move on dan berada di comfort zone untuk bekerja di perusahaan lain dengan pertimbangan compensation benefit yang menurut mereka tidak seperti tambang.

  • Learning and growth

Dari sisi kesempatan untuk belajar di perusahaan tambang diuntungkan dengan sistem “delegation of authority” dimana ketika atasan kita cuti/off kita yang mendapatkan delegation of authority berkesampatan sebagai acting dalam hal keputusan atau aktivitas rutin lainnya. Hal ini membuat kita belajar secara tugas dan tanggung jawab di role yang lebih luas/tinggi dan tidak kita temui dalam perusahaan manufactur.

Akan tetapi dalam hal aspek pembelajarn HR yang lain bisanya kita dituntut untuk belajar mandiri hal ini di sebabkan lokasi yang remote menyebabkan akses informasi/sharing komunitas HR sangat minim dan biasanya organisasi HR di perusahaan tambang sendiri lebih konservatif. Itulah kenapa dalam hal ini terkadang kita ketinggalan dibanding rekan-rekan HR di perusahaan lain yang berada di kota besar seperti jakarta atau surabaya.

  •  Work Load

Dari pengalaman saya di 2 perusahaan manufactur skala international sebelumnya, pressure kerja dari work load kerjaan di perusahaan tambang tidaklah tinggi. Berbeda dengan di manufactur dengan Services level aggreement (SLA) yang terukur dan jelas serta kitapun seperti berlomba dengan system yang semakin update dan mutakhir. Bagi kita yang terlena dengan ini kita akan terbiasa dengan speed lambat dan terseret kepada comfort zone serta akhirnya akan kaget jika kita pindah ke perusahaan dengan target dan pressure kerja yang lebih tinggi.

  •  Work life balance

Jadwal kerja di perusahaan tambang bervariasi namun yang paling banyak adalah 8-2 (delapan minggu bekerja dan 2 minggu off) untuk level Non Management dan 6-2 (6 minggu bekerja dan 2 minggu off ) level management pada di divisi produksi dengan 6 hari kerja.

Namun untuk support function seperti HR, GA, Finance, IT dan lainnya sama seperti pada umumnya yaitu 5 hari kerja dengan 2 hari libur. Walaupun dengan jumlah cuti yang lebih banyak dari manufactur namun dengan lokasi kerja yang remote yang ditempuh minimal 4 jam dari kota tentunya hal ini belumlah mendukung untuk mereka yang sudah berkeluarga dan tidak membawa keluarganya ke site.

  •   Change management culture

Sebagai HR sering kali kita dihadapkan dengan perubahan-perubahan baik secara kebijakan, organisasi  dan hal –hal lain yang berdampak pada karyawan . Hal ini memerlukan proses change management yang baik agar stabilitas organisasi dan produktivitas tetap terjaga. Namun dengan kondisi perusahaan yang lokasi di daerah yang otomatis diisi dengan tenaga kerja lokal serta aspek lain seperti aspek-aspek eksternal lainnya dan disebabkan beberapa yang sudah masuk dalam comfort zone maka change management tersebut tidak berjalan mulus sehingga muncullah gesekan bahkan demonstrasi.

Bagi beberapa generasi muda yang datang dengan spirit baru dan semangat perubahan acap kali dalam aspek ini menyebabkan gejala frustasi dan apabila tidak ditangkap oleh management maka menyebabkan turn over perusahaan akan tinggi. (Tanjung, 5/3/2015 by RH)

Apa alasan utama karyawan Resign?

Resign adalah keputusan terakhir ketika sudah tidak ada titik temu antara espektasi perusahaan dan espektasi karyawan. Bagi karyawan tentunya bukanlah sesuatu yang mudah untuk memutuskan resign apalagi status yang sudah karyawan tetap, masa kerja yang sudah lama, dengan posisi dan kompensasi benefit yang bagus belum lagi tantangan untuk beradaptasi di dunia baru tentunya menjadi pertimbangan tersendiri. Sedangkan bagi perusahaan resignnya seorang karyawan yang memegang posisi-posisi kunci, talent terbaik tentunya merugikan secara investment jangka panjang yang sudah dilakukan dan biaya serta waktu yang dibutuhkan untuk mencari pengganti karyawan tersebut juga tidaklah sedikit dan mudah. Pertanyaan adalah apa alasan utama karyawan memutuskan untuk resign? Dan sudahkah perusahaan mengindentifikasi dengan melakukan exit survey atau sejenisnya sebagai bahan evaluasi yang menyeluruh yang nantinya akan diwujudkan dengan strategy retention dan memenangkan pertarungan di era talent war.

Berikut beberapa alasan utama karyawan resign dari sebuah penelitian yang dilakukan SHRM (Komunitas Human Resources Management) Januari tahun 2014.

Source: SHRM HR Jobs Pulse Survey (January 2014)

Source: SHRM HR Jobs Pulse Survey (January 2014)

3 Jenis investasi untuk sukses

“ Kebaikan satu-satunya investasi yang tidak akan pernah gagal”

11697134804_5226e076a9_z

Investasi dalam hidup tidak hanya property, deposito, reksadana ataupun yang berkaitan dengan materi/harta lainnya. Jika kita ingin menjadi seseorang pribadi yang sukses dalam profesional di bidang apapun yang kita geluti saat ini, ada 3 jenis investasi yang harus dimiliki:

  1. Keterampilan (Skill) & Pengetahuan (Knowledge)

Ketrampilan dan pengetahuan adalah 2 hal yang tidak bisa dipisahkan, keduanya adalah modal utama untuk kita sukses apapun profesi kita. Seperti halnya istilah “belajar sepanjang masa” maka belajar, menambah dan meningkatkan skill serta knowledge kita juga tidak pernah mengenal usia, waktu, tempat atau dengan siapa. Kita bisa berinvestasi skill dan pengetahuan secara sederhana dari pengalaman orang lain, dari pengalaman kita sendiri atau dari sebuah forum formal seperti training, workshop yang mungkin ada biaya yang harus kita keluarkan tapi yakinlah suatu saat kita akan memetik hasilnya.

  1. Jaringan (Networking)

Networking seperti pelumas atau akselerator dari skill dan knowledge yang sudah kita miliki untuk mencapai mimpi-mimpi besar kita. Salah satu karakteristik paling umum dari orang-orang yang berhasil adalah mereka secara terus menerus mengembangkan networking dengan berbagai macam orang dari berbagai kalangan. Networking memungkinkan kita untuk berkembang dan memperbaiki setiap bagian kehidupan. Orang-orang yang kita kenal, dan yang mengenal kita memiliki pengaruh yang paling besar dalam menentukan pencapaian kesuksesan, kebahagiaan, dan tingkat keberhasilan dalam hidup, jika dibandingkan dengan faktor-faktor yang lain. Sisi lain networking juga akan berguna dalam pencapaian kita seperti dalam hal bisnis, peluang kerja, promosi, karir, sosial, informasi, referensi, transaksi, support, partnership dan berbagai hal lainnya.

  1. Berbagi (Sharing)

Investasi yang terakhir ini adalah bentuk nyata kontribusi kita terhadap sesama atau sarana melipatgandakan skill & knowledge serta memperkokoh networking. Alangkah merugi seseorang yang mempunyai knowledge dan skill yang hebat serta networking yang luas namun tidak berusaha untuk berbagi. Dengan sharing, baik lewat tulisan, suasana formal/non formal dari apapun yang kita miliki walaupun itu sedikit akan tetap bermanfaat bagi orang lain. Sharing yang bermanfaat inilah yang akan menjadi amal yang tidak habis-habisnya yang pahalanya terus mengalir sampai akhir nanti. Seperti sebuah kutipan mutiara hikmah “ Alam dan seluruh isinya diciptakan untuk memberi manfaat seperti lebah memproduksi madu yang jumlahnya jauh melebihi yang ia butuhkan, susu pada hewan-hewan ternak tak terkecuali kita”.

Sekarang pertanyaannya, seberapa banyak dari 3 jenis investasi tersebut kita punyai? Semoga saya bisa memulainya dari diri saya pribadi.Selamat berinvestasi!

3 Teknik evaluasi diri secara sederhana

“Good leader always do self assessment periodically….this will bring the values of being humble and always want to learn”

 173841336_ae7744d802_z

Mengevaluasi diri (Self-Assessment) mutlak diperlukan kita semua untuk sukses dalam kehidupan profesional di dunia kerja atau pun dalam kehidupan pribadi. Segala target yang kita harapkan tentunya tidak bisa instant bisa kita capai, sehingga dengan evaluasi diri merupakan strategi jangka panjang untuk mendorong adanya suatu perbaikan yang kumulatif dalam mencapai nya. Evaluasi diri secara sederhana merupakan suatu proses mandiri, objektif, transparan dan berkelanjutan dalam rangka memperoleh pengalaman pembelajaran yang positif. Aspek yang umum kita evaluasi diantaranya nilai (value), kemampuan (skills), pengetahuan (knowledge) dan pencapaian (achievement).

Banyak buku yang membahas tentang teknik evaluasi diri namun ilmu pengetahuan mengajari kita untuk memulainya secara sederhana cukup dengan menggunakan 3 simbol matematika berikut:

  1. Sama dengan ( =)

Mengidentifikasi apa-apa saja aspek dalam diri saat ini yang sama seperti hari/bulan/tahun kemarin.Dengan teknik ini kita akan berpikir improvement apa yang harus kita lakukan agar aspek yang statis bisa menjadi lebih baik lagi. Sering kali dalam hal ini kita terjebak dalam zona nyaman sehingga sesuatu yang menurut kita sesuai dengan standar tidak pernah ter pikirkan untuk bisa menjadi lebih dahsyat jika dilakukan improvement. Misalnya : Jika bekerja dalam bidang pelayanan dengan standar pelayanannya bisanya 2 hari kerja sudah tercapai secara terus menerus, kita bisa melakukan improvement untuk bisa diselesaikan dalam 1 hari kerja dengan merubah proses kerjanya yang dirasa tidak efektif.

  1. Tambah (+)

Mengidentifikasi apa-apa saja aspek dalam diri saat ini yang lebih baik dari hari/bulan/tahun kemarin. Sesuatu yang sudah positif tentunya harus kita pertahankan dan seperti kata pepatah mempertahankan lebih sulit daripada meraihnya.

  1. Kurang ( – )

Mengindentifikasi apa-apa saja aspek dalam diri saat ini yang lebih kurang dari hari/bulan/tahun kemarin. Dengan ini kita akan mendapatkan gambaran hal-hal apa saja yang kurang dalam diri kita untuk kita tingkatkan dan dengan bagaimana kita meningkatkannya. Misalnya: Jika kita ingin menjadi public speaking tetapi kemampuan komunikasi kita masih kurang maka kita akan meningkatkannya dengan mengikuti training public speaking.

Semoga teknik evaluasi diri diatas bisa kita gunakan sebagai  proses mematangkan pembelajaran dari setiap perbaikan diri sehingga kita semua menjadi pribadi yang selalu lebih baik dari waktu demi waktu. Amin.

Pembelajaran “Emotional Bank Account” seorang Tukang Ojek

Jika bekerja hanya untuk menyambung nyawa

Pak, saya ini bekerja tidak lain hanya untuk menyambung nyawa dan sekedarnya menghidupi keluarga karena jika saya tidak bekerja lagi maka saya tidak bisa cuci darah”

“jika saya memilih antara  diberikan semua hak-hak pension saya atau saya bekerja, saya mending bekerja terus karena berapapun uang yang saya terima akan habis untuk biaya cuci darah”

 

Picture from: http://www.squawkfox.com

Itulah salah satu kutipan kalimat dari Pak IRD yang telah bekerja 11 thn, 2 bulan sebagai karyawan gudang pihak ketiga kami di area kantor penjualan cirebon. Beliau saya kenal ketika beberapa mingu kemarin saya dan perwakilan dari managemen kami datang ke bandung untuk sosialiasi perubahan pengelolaan karyawan pihak ketiga. Waktu itu Pak IRD adalah satu-satu yang menjadi fokus kita karena kondisi kesehatan beliau yang tidak memungkinkan untuk kita lanjutkan sebagai karyawan pihak ketiga kami. Beliau menderita penyakit ginjal dimana harus cuci darah dalam 1 minggu 2 kali dengan biaya yang tidak murah untuk beliau.

Banyak diantara kita kalau diberikan pertanyaan untuk apa kita bekerja? Pastinya jawabannya secara garis besar akan merujuk pada teori Abraham maslow, tentang 5 tingkatan yang memotivasi seseorang untuk bekerja:

1. Physical : materi (uang, rumah, mobil mewah, elektronik dst)

2. Safety & security : rasa aman dan nyaman

3. social: interaksi sesama manusia

4. self esteem : pencapian, rasa hormat dari orang lain, kebanggan

5. Aktualisasi diri.

Namun semua itu tidak berlaku untuk Pak IRD yang hanya bekerja untuk menyambung nyawa selain harus menghidupi keluarganya.

 

Saya menuliskan pengalaman ini sebagai bahan refleksi untuk saya pribadi betapa pentingnya bersyukur. Bersyukur karena lewat apapun pekerjaan, strata kita sekarang, kita masih bisa menghidupi  keluarga kita dengan tingkatan kecukupan yang berbeda. Bersyukur kita dapat melakukan semua pekerjaan tersebut karena masih diberi kesehatan dan nafas kehidupan. Bersyukur….karena setiap hal yang kita alami, yang kita hadapi, suka, duka, pahit, getir ataupun gembira, adalah karunia luar biasa yang Tuhan anugerahkan dalam hidup kita.

Bersyukur atas apa yang telah kita capai, bersyukur atas pengalaman yang telah kita dapatkan, keahlian dan minat yang kita miliki, apa yang kita yakini, dan hal-hal terindah yang telah terjadi dalam hidup kita. Walaupun seringkali kita menginginkan kehidupan yang sempurna tanpa memahami bahwa kita perlu untuk merubah diri sendiri, membuat apa yang kita miliki lebih bernilai dan berguna menjadi bekal untuk menjalani perantauan yang panjang dalam perjalanan menuju kampung abadi nanti.

Terima kasih Pak IRD, atas inspirasinya semoga bapak bisa sehat seperti sedia kala dan memberikan yang terbaik untuk keluarga bapak.

Selamat bekerja, semoga kesehatan dan kesuksesan selalu bersama kita semua.

Stay grateful and enjoy your life!

Employee engagement: sebuah tradisi hadiah ulang tahun karyawan

 

Pagi itu ketika bertepatan dengan ulang tahunku, seperti biasa saya ke kantor kemudian langsung menuju meja kerja, tidak dapat dibohongi rasa bahagia dan bangga nampak di atasnya sebuah buku agenda warna hitam terbuat dari bahan daur ulang salah satu brand produk kami dengan sebuah kartu ucapan bertuliskan “ Dear rochman, Our BIG success comes from people with a BIG heart dan BIG dream,people like you, from all of us at PT. Unilever Indonesia Tbk”. Sedetik kemudian teman-teman dari berbagai area dan sudut di ruangan kami semburat mendatangi saya sambil saling bergantian menyalami dan mengucapkan selamat ulang tahun dengan berbagai versi ucapan ataupun malah kebanyakan todongan traktiran he2x.

IMG-20130911-00463

Program ini adalah rutin dalam perusahaan kami jika ada yang ulang tahun bahkan tahun sebelumnya disertai salah satu jenis pohon/tanaman untuk kami tanam disekitar lingkungan kami. Hal itu sekilas sederhana namun belum tentu ada di perusahaan lain serta sangat berdampak besar pada iklim positif perusahaan. Seperti halnya 3 kata “BIG” dalam rangkaian kartu ucapan itu : Big heart, Big dream & Big success. Kalau saya coba interpretasikan di mulai dari Big Dream, setiap orang pasti mempunya mimpi mimpi besar dalam hidup baik dalam pribadi, karir dan keluarga tak terkecuali kita karyawan sebuah perusahaan. Adalah hal penting bagi management sebuah perusahaan untuk mewadahi dan mensinergikan mimpi mimpi besar karyawannya guna memcapai mimpi bersama perusahaan.

Dalam konteks inilah perusahaan dituntut menciptakan program-program guna membentuk budaya keterikatan dan komitmen emosional terhadap organasisi serta tujuan yang hendak dicapainya  atau  yang istilah kerennya “employee engagement”. Ketika seorang karyawan sudah engage dengan perusahaanya maka dia akan bekerja dengan hati “BIG Heart” untuk mewujudkan mimpi-mimpinya yang sinergi dengan mimpi perusahaan lewat produktivitas kerja yang positif. Dan ketika semua itu terjadi dengan cengkraman culture “engagement” yang kuat maka “Big Dream” mimpi –mimpi besar karyawan dan perusahaan akan tercapai. Dan hari itu, tradisi ucapan dan hadiah ulang tahun yang sederhana menjadi sebuah inspirasi dalam menciptakan employee engagement, terima kasih semuanya.

Rasanya diantar ke toilet oleh sang Presiden Direktur

Tak pernah terlintas dalam bayangan saya yang hanya karyawan biasa akan diantar ke toilet oleh seorang presiden direktur sebuah perusahaan multinasional. Namun itulah yang terjadi ketika pertengahan agustus kemarin saya dan management dari perusahaan berkunjung dan meeting di kantor salah satu client jasa penyedia tenaga kerja dalam perusahaan kami.

Sebagai orang yang baru pertama kali ke kantor mereka, kamipun disambut dengan ramah dan diperkenalkan tentang fasilitas, management dan hal-hal lain yang menarik untuk kami ketahui. Setelah hampir 1 jam kami bersosialisasi kami menuju ke ruang meeting. Ditengah perjalanan kami dikenalkan juga dengan presiden direkturnya dan beliau memberikan kartu nama ke kami. Sayang saya belum punya kartu nama seperti mereka..he2x. Cukup singkat lalu beliau kembali ke ruangannya yang kebetulan berada di depan ruang meeting kami.

AC ruangan yang dingin dan 2 botol minuman yang keteguk (he2x..haus banget) membuat saya harus segera bergegas ke toilet. Namun karena nggak tau posisi toiletnya dan tidak ada rambu-rambu sayapun kebingungan. Dari dalam sang Presiden direktur memperhatikan namun saya pura-pura saja nggak tau dan menemui seorang office boy dan bertanya ” maaf pak, toiletnya dimana ya?”

Belum selesai Pak office boy menjawab tiba-tiba sang Presiden Direktur sudah ada dibelakang saya dan berkata ” mari saya yang antar saja pak” sambil mempersilahkan dengan dilanjutkan membukakan pintu keluar sampai akhirnya membukakan pintu depan toilet bahkan sampai ikut masuk  “silahkan pak, maaf saya tinggal ya” ujarnya.

Customer_Service_Leadership_Skills

http://www.aboutleaders.com/

Sejenak saya tercengang bukan karena ingin membanggakan diri diantar oleh presiden direktur namun hal seperti ini sangat langka dalam kehidupan sekarang. Saya merenung seandainya banyak pemimpin-pemimpin kita seperti beliau yang slogan Customer services tidak batasi sekat-sekat level jabatan.

 

Seperti sebuah tulisan dari  George Ambler bahwa meskipun banyak orang yang menjunjung tinggi pangkat dan kedudukan, namun sesungguhnya perilaku-lah yang memenangkan kepercayaan, loyalitas, output dan rasa hormat dari orang lain. Beliau adalah pemimpin yang memiliki karakter, yang menciptakan value-value seperti customer services secara baik dan ikut melakukan secara konsisten bukan hanya slogan perusahaannya dan hanya untuk level jabatan tertentu. Menurut saya dialah sosok pemimpin yang memberikan contoh langsung mengenai perilaku apa saja yang menjadi value bahkan karakter dari perusahaannya untuk semua level dan siapapun itu. Hal itupun ketika saya ceritakan dengan salah satu karyawan disana memang benar adanya. Terima kasih pak, atas pertemuan singkatnya yang menginspirasi kami.

 

Lembur: profesionalisme, parasitisme & humanisme

Suatu hari seorang karyawan yang baru saja dipindah bagian menghadap atasannya dan menanyakan kenapa lemburnya setelah dia pindah dari departemen C ke D kesempatan untuk lembur berkurang sehingga uang lemburnya juga mengalami penurunan padahal menurutnya di departemen sebelumnya dia bisa menerima uang lembur 2x lipat dari gaji pokok.

Lain cerita salah seorang karyawan di departemen A menghadap supervisornya untuk meminta approval lemburan. Secara administrasi karyawan tersebut sudah mencantumkan alasan-alasan kenapa dia lembur dengan jumlah total lembur kurang dari 20 jam per bulan. Namun sang supervisor mengatakan “masak mengerjakan kerjaan begitu saja harus lembur, pokoknya kedepan lemburannya harus dikurangi ya”

overtime-treadmill (1)

Picture from :http://blog.firstreference.com

Ilustrasi cerita diatas mungkin sudah tidak asing lagi dalam dunia kerja, apalagi dalam era dewasa ini disaat tingginya biaya produksi, inflasi, upah pokok, BBM, harga kebutuhan pokok dan berbagai gejolak ekonomi dalam bangsa ini maka beberapa perusahaan dituntut untuk melakukan cost saving dalam berbagai lini. Di sisi karyawan juga adanya keinginan untuk mendapatkan pendapatan yang bisa mengimbangi gejolak ekonomi diatas. Yang terjadi adalah dualisme kepentingan, disinilah peran integritas dan komunikasi humanis antara karyawan dan perusahaan sangat dibutuhkan.

Dari ilustrasi yang pertama adalah contoh kurangnya kedewasaan integrity karyawan, beberapa karyawan menyikapi tuntutan kebutuhan hidup yang tinggi dengan hanya bergantung pada penghasilan sebagai pekerja dan tak jarang menghabiskan waktu untuk mengejar pendapatan tambahan dari lembur.Lebih parahnya lagi jika mereka sudah terbiasa menerima kenikmatan tersebut beranggapan bahwa lembur adalah pendapatan tetap yang harus mereka terima dengan nominal tertentu setiap bulan. Ini seperti parasitisme dalam tubuh perusahaan, padahal kita tahu bahwa lembur adalah variabel yang fluktuatif tergantung dari kebutuhan perusahaan, beban kerja serta efektivitas kerja dari team/individu itu sendiri.

Sedangkan dalam ilustrasi yang kedua, efektivitas komunikasi supervisor dan gaya kepemimpinannya yang tidak mampu mengedukasi bawahannya sehingga mendobrak nilai-nilai humanisme antara perusahaan, atasan dan bawahan. Dalam hubunganya dengan masalah “dapur karyawan” sesuatu yang sebenarnya berada dalam koridor kebenaran bisa menjadi sangat abu-abu dan sensitive, sehingga diperlukan sentuhan komunikasi, edukasi, yang humanis tanpa mengkastakan kepentingan dan jabatan. Hilangnya nilai –nilai humanisme dalam dunia kerja akan menimbulkan parasitisme terbalik dimana perusahaan yang mengeksplorasi tenaga kerja seperti mesin tanpa memperhatikan hak-haknya secara proporsional sesuai undang-undang yang berakibat konflik industrialisasi, hilangnya trust, unmotivated dan penurunan productivity.

Semoga dari ilustrasi diatas membuka ruang pemikiran dan diskusi untuk berusaha menjadi seorang professional dalam bidang dan strata jabatan kita masing-masing khususnya dalam topic lembur di dunia kerja. Pribadi yang professional bukan hanya dari kompetensi pribadi namun bagaimana menempatkan kompetensi pribadi kita dengan naluri humanis dalam batasan integrity kita. (Jakarta, 3 Ramadhan 1434 H).