3 Jenis investasi untuk sukses

“ Kebaikan satu-satunya investasi yang tidak akan pernah gagal” Investasi dalam hidup tidak hanya property, deposito, reksadana ataupun yang berkaitan dengan materi/harta lainnya. Jika kita ingin menjadi seseorang pribadi yang sukses dalam profesional di bidang apapun yang kita geluti saat […]

3 Teknik evaluasi diri secara sederhana

“Good leader always do self assessment periodically….this will bring the values of being humble and always want to learn”   Mengevaluasi diri (Self-Assessment) mutlak diperlukan kita semua untuk sukses dalam kehidupan profesional di dunia kerja atau pun dalam kehidupan pribadi. […]

Pembelajaran “Emotional Bank Account” seorang Tukang Ojek

“ Bagaimana kabarnya mas,lama tidak berjumpa. Semoga selalu sukses dan keluarga sehat, kapan ke Surabaya lagi?  “Terima kasih mas, telah memakai jasa saya hari ini. Selamat berkumpul dengan keluarga, salam untuk seluruh keluarga”   Beberapa pesan singkat Pak Ari, ojek […]

Jika bekerja hanya untuk menyambung nyawa

“Pak, saya ini bekerja tidak lain hanya untuk menyambung nyawa dan sekedarnya menghidupi keluarga karena jika saya tidak bekerja lagi maka saya tidak bisa cuci darah” “jika saya memilih antara  diberikan semua hak-hak pension saya atau saya bekerja, saya mending […]

Employee engagement: sebuah tradisi hadiah ulang tahun karyawan

  Pagi itu ketika bertepatan dengan ulang tahunku, seperti biasa saya ke kantor kemudian langsung menuju meja kerja, tidak dapat dibohongi rasa bahagia dan bangga nampak di atasnya sebuah buku agenda warna hitam terbuat dari bahan daur ulang salah satu […]

 

3 Jenis investasi untuk sukses

“ Kebaikan satu-satunya investasi yang tidak akan pernah gagal”

11697134804_5226e076a9_z

Investasi dalam hidup tidak hanya property, deposito, reksadana ataupun yang berkaitan dengan materi/harta lainnya. Jika kita ingin menjadi seseorang pribadi yang sukses dalam profesional di bidang apapun yang kita geluti saat ini, ada 3 jenis investasi yang harus dimiliki:

  1. Keterampilan (Skill) & Pengetahuan (Knowledge)

Ketrampilan dan pengetahuan adalah 2 hal yang tidak bisa dipisahkan, keduanya adalah modal utama untuk kita sukses apapun profesi kita. Seperti halnya istilah “belajar sepanjang masa” maka belajar, menambah dan meningkatkan skill serta knowledge kita juga tidak pernah mengenal usia, waktu, tempat atau dengan siapa. Kita bisa berinvestasi skill dan pengetahuan secara sederhana dari pengalaman orang lain, dari pengalaman kita sendiri atau dari sebuah forum formal seperti training, workshop yang mungkin ada biaya yang harus kita keluarkan tapi yakinlah suatu saat kita akan memetik hasilnya.

  1. Jaringan (Networking)

Networking seperti pelumas atau akselerator dari skill dan knowledge yang sudah kita miliki untuk mencapai mimpi-mimpi besar kita. Salah satu karakteristik paling umum dari orang-orang yang berhasil adalah mereka secara terus menerus mengembangkan networking dengan berbagai macam orang dari berbagai kalangan. Networking memungkinkan kita untuk berkembang dan memperbaiki setiap bagian kehidupan. Orang-orang yang kita kenal, dan yang mengenal kita memiliki pengaruh yang paling besar dalam menentukan pencapaian kesuksesan, kebahagiaan, dan tingkat keberhasilan dalam hidup, jika dibandingkan dengan faktor-faktor yang lain. Sisi lain networking juga akan berguna dalam pencapaian kita seperti dalam hal bisnis, peluang kerja, promosi, karir, sosial, informasi, referensi, transaksi, support, partnership dan berbagai hal lainnya.

  1. Berbagi (Sharing)

Investasi yang terakhir ini adalah bentuk nyata kontribusi kita terhadap sesama atau sarana melipatgandakan skill & knowledge serta memperkokoh networking. Alangkah merugi seseorang yang mempunyai knowledge dan skill yang hebat serta networking yang luas namun tidak berusaha untuk berbagi. Dengan sharing, baik lewat tulisan, suasana formal/non formal dari apapun yang kita miliki walaupun itu sedikit akan tetap bermanfaat bagi orang lain. Sharing yang bermanfaat inilah yang akan menjadi amal yang tidak habis-habisnya yang pahalanya terus mengalir sampai akhir nanti. Seperti sebuah kutipan mutiara hikmah “ Alam dan seluruh isinya diciptakan untuk memberi manfaat seperti lebah memproduksi madu yang jumlahnya jauh melebihi yang ia butuhkan, susu pada hewan-hewan ternak tak terkecuali kita”.

Sekarang pertanyaannya, seberapa banyak dari 3 jenis investasi tersebut kita punyai? Semoga saya bisa memulainya dari diri saya pribadi.Selamat berinvestasi!

3 Teknik evaluasi diri secara sederhana

“Good leader always do self assessment periodically….this will bring the values of being humble and always want to learn”

 173841336_ae7744d802_z

Mengevaluasi diri (Self-Assessment) mutlak diperlukan kita semua untuk sukses dalam kehidupan profesional di dunia kerja atau pun dalam kehidupan pribadi. Segala target yang kita harapkan tentunya tidak bisa instant bisa kita capai, sehingga dengan evaluasi diri merupakan strategi jangka panjang untuk mendorong adanya suatu perbaikan yang kumulatif dalam mencapai nya. Evaluasi diri secara sederhana merupakan suatu proses mandiri, objektif, transparan dan berkelanjutan dalam rangka memperoleh pengalaman pembelajaran yang positif. Aspek yang umum kita evaluasi diantaranya nilai (value), kemampuan (skills), pengetahuan (knowledge) dan pencapaian (achievement).

Banyak buku yang membahas tentang teknik evaluasi diri namun ilmu pengetahuan mengajari kita untuk memulainya secara sederhana cukup dengan menggunakan 3 simbol matematika berikut:

  1. Sama dengan ( =)

Mengidentifikasi apa-apa saja aspek dalam diri saat ini yang sama seperti hari/bulan/tahun kemarin.Dengan teknik ini kita akan berpikir improvement apa yang harus kita lakukan agar aspek yang statis bisa menjadi lebih baik lagi. Sering kali dalam hal ini kita terjebak dalam zona nyaman sehingga sesuatu yang menurut kita sesuai dengan standar tidak pernah ter pikirkan untuk bisa menjadi lebih dahsyat jika dilakukan improvement. Misalnya : Jika bekerja dalam bidang pelayanan dengan standar pelayanannya bisanya 2 hari kerja sudah tercapai secara terus menerus, kita bisa melakukan improvement untuk bisa diselesaikan dalam 1 hari kerja dengan merubah proses kerjanya yang dirasa tidak efektif.

  1. Tambah (+)

Mengidentifikasi apa-apa saja aspek dalam diri saat ini yang lebih baik dari hari/bulan/tahun kemarin. Sesuatu yang sudah positif tentunya harus kita pertahankan dan seperti kata pepatah mempertahankan lebih sulit daripada meraihnya.

  1. Kurang ( – )

Mengindentifikasi apa-apa saja aspek dalam diri saat ini yang lebih kurang dari hari/bulan/tahun kemarin. Dengan ini kita akan mendapatkan gambaran hal-hal apa saja yang kurang dalam diri kita untuk kita tingkatkan dan dengan bagaimana kita meningkatkannya. Misalnya: Jika kita ingin menjadi public speaking tetapi kemampuan komunikasi kita masih kurang maka kita akan meningkatkannya dengan mengikuti training public speaking.

Semoga teknik evaluasi diri diatas bisa kita gunakan sebagai  proses mematangkan pembelajaran dari setiap perbaikan diri sehingga kita semua menjadi pribadi yang selalu lebih baik dari waktu demi waktu. Amin.

Pembelajaran “Emotional Bank Account” seorang Tukang Ojek

Bagaimana kabarnya mas,lama tidak berjumpa. Semoga selalu sukses dan keluarga sehat, kapan ke Surabaya lagi?

 “Terima kasih mas, telah memakai jasa saya hari ini. Selamat berkumpul dengan keluarga, salam untuk seluruh keluarga

 

Beberapa pesan singkat Pak Ari, ojek langganan saya saat di surabaya. Beliaulah yang mengantarkan saya dari terminal ke kantor ataupun sebaliknya bahkan untuk keperluan lainnya. Saya termasuk pemakai jasa ojek karena tuntutan mobilitas dan kondisi tertentu misalnya macet. Dari puluhan ojek yang saya kenal tak banyak yang memberikan kesan positif hanya beberapa orang saja, ada yang menarget tarif mahal, ugal-ugalan dalam membawa penumpang (un safety) ataupun lainnya yang mungkin pembaca alami. Pak Ari termasuk salah satunya yang memberi kesan positif dan silaturrahmi kami sampai saat ini sangat baik, terkadang kalau ada teman atau keluarga yang butuh sayapun tidak ragu merefrensikan beliau karena pribadi serta pelayanannya yang luar biasa. Tidak heran lagi pelanggannya banyak yang loyal dan itupun berdampak pada pendapatannya yang bisa menyamai pegawai/karyawan.

Apa yang ada dalam diri pak Ari menginspirasi saya tentang aplikasi Emotional Bank Account (EBA) dalam dunia bisnis jasa yang selama ini saya temui dalam buku Stephen Covey  “The Seven Habits of Highly Effective Peopleyang menggambarkan bahwa EBA adalah “the amount of trust that’s been built up in a relationship”.

EBA Pic

picture from: www.beyondphilosophy.com

EBA merupakan seberapa banyak deposito di rekening kepercayaan yang kita tanamkan ke seseorang dalam berbagai hal. Seperti halnya yang ditulis Stephen Covey dalam bukunya ada 6 cara membangun EBA, itu ada dalam diri pak Ari, diantaranya:

(1) mengenal individu, pertama kali memakai jasanya dan saat lama tidak berjumpa, beliau menanyakan tentang keluarga, pekerjaan atau sesekali melepaskan topik bebas hanya untuk berinteraksi dan mengenal pelanggannya seperti saya lebih dekat.

(2) Menanamkan kesan baik, tidak hanya bosa basi beliau memunculkan aura positif dan selalu mengirimkan pesan singkat ketika selesai mengantarkan saya ataupun momen-momen lebaran atau hari besar lainnya

(3) Memenuhi komitmen, ketika beliau berjanji menunggu saya, beliau menjadikan sebagai high priority walaupun tawaran datang pada saat yang sama nilainya jauh lebih besar. Seorang guru pernah berkata “jika ingin menilai personal berkomitmen tinggi, lihatlah dari kegiatan-kegiatan yang non profit. Jika yang non profit aja komitmennya tinggi, biasanya akan lebih komitmennya pada kegiatan profit.

(4) Komunikasi terbuka, Selalu mengkomunikasikan segala sesuatu secara terbuka, jujur dan apa adanya (non political). Pernah ketika saya memberinya upah lebih beliau mengatakan “maaf mas kebanyakan” kemudian mengembalikan uangnya dan baru menerimanya lagi setelah memang saya katakan itu untuknya.

(5) Memperlihatkan Integritas, Sikapnya yang jujur dan tidak berlebihan dalam memberikan tarif kepada pelanggan.

(6) Meminta maaf, mengkomunikasikan apa yang terjadi, Suatu saat beliau menolak permintaan saya karena sudah terlanjur mendapat order dari pelanggan yang lain dan beliau mengkomunikasikan apa yang terjadi dengan baik, dengan permintaan maaf dan komitmen lanjutan.

Ternyata belajar tidak harus dari orang-orang hebat, buku best seller, namun belajar bisa dari siapapun, apapun dan kapanpun. Kita patut bersyukur ternyata begitu banyak orang-orang di sekitar kita seperti Pak Ari yang bisa menjadi sumber inspirasi bagi orang lain. Mari kita saling menginspirasi satu sama lain! Keep inspire others.

Jika bekerja hanya untuk menyambung nyawa

Pak, saya ini bekerja tidak lain hanya untuk menyambung nyawa dan sekedarnya menghidupi keluarga karena jika saya tidak bekerja lagi maka saya tidak bisa cuci darah”

“jika saya memilih antara  diberikan semua hak-hak pension saya atau saya bekerja, saya mending bekerja terus karena berapapun uang yang saya terima akan habis untuk biaya cuci darah”

 

Picture from: http://www.squawkfox.com

Itulah salah satu kutipan kalimat dari Pak IRD yang telah bekerja 11 thn, 2 bulan sebagai karyawan gudang pihak ketiga kami di area kantor penjualan cirebon. Beliau saya kenal ketika beberapa mingu kemarin saya dan perwakilan dari managemen kami datang ke bandung untuk sosialiasi perubahan pengelolaan karyawan pihak ketiga. Waktu itu Pak IRD adalah satu-satu yang menjadi fokus kita karena kondisi kesehatan beliau yang tidak memungkinkan untuk kita lanjutkan sebagai karyawan pihak ketiga kami. Beliau menderita penyakit ginjal dimana harus cuci darah dalam 1 minggu 2 kali dengan biaya yang tidak murah untuk beliau.

Banyak diantara kita kalau diberikan pertanyaan untuk apa kita bekerja? Pastinya jawabannya secara garis besar akan merujuk pada teori Abraham maslow, tentang 5 tingkatan yang memotivasi seseorang untuk bekerja:

1. Physical : materi (uang, rumah, mobil mewah, elektronik dst)

2. Safety & security : rasa aman dan nyaman

3. social: interaksi sesama manusia

4. self esteem : pencapian, rasa hormat dari orang lain, kebanggan

5. Aktualisasi diri.

Namun semua itu tidak berlaku untuk Pak IRD yang hanya bekerja untuk menyambung nyawa selain harus menghidupi keluarganya.

 

Saya menuliskan pengalaman ini sebagai bahan refleksi untuk saya pribadi betapa pentingnya bersyukur. Bersyukur karena lewat apapun pekerjaan, strata kita sekarang, kita masih bisa menghidupi  keluarga kita dengan tingkatan kecukupan yang berbeda. Bersyukur kita dapat melakukan semua pekerjaan tersebut karena masih diberi kesehatan dan nafas kehidupan. Bersyukur….karena setiap hal yang kita alami, yang kita hadapi, suka, duka, pahit, getir ataupun gembira, adalah karunia luar biasa yang Tuhan anugerahkan dalam hidup kita.

Bersyukur atas apa yang telah kita capai, bersyukur atas pengalaman yang telah kita dapatkan, keahlian dan minat yang kita miliki, apa yang kita yakini, dan hal-hal terindah yang telah terjadi dalam hidup kita. Walaupun seringkali kita menginginkan kehidupan yang sempurna tanpa memahami bahwa kita perlu untuk merubah diri sendiri, membuat apa yang kita miliki lebih bernilai dan berguna menjadi bekal untuk menjalani perantauan yang panjang dalam perjalanan menuju kampung abadi nanti.

Terima kasih Pak IRD, atas inspirasinya semoga bapak bisa sehat seperti sedia kala dan memberikan yang terbaik untuk keluarga bapak.

Selamat bekerja, semoga kesehatan dan kesuksesan selalu bersama kita semua.

Stay grateful and enjoy your life!

Employee engagement: sebuah tradisi hadiah ulang tahun karyawan

 

Pagi itu ketika bertepatan dengan ulang tahunku, seperti biasa saya ke kantor kemudian langsung menuju meja kerja, tidak dapat dibohongi rasa bahagia dan bangga nampak di atasnya sebuah buku agenda warna hitam terbuat dari bahan daur ulang salah satu brand produk kami dengan sebuah kartu ucapan bertuliskan “ Dear rochman, Our BIG success comes from people with a BIG heart dan BIG dream,people like you, from all of us at PT. Unilever Indonesia Tbk”. Sedetik kemudian teman-teman dari berbagai area dan sudut di ruangan kami semburat mendatangi saya sambil saling bergantian menyalami dan mengucapkan selamat ulang tahun dengan berbagai versi ucapan ataupun malah kebanyakan todongan traktiran he2x.

IMG-20130911-00463

Program ini adalah rutin dalam perusahaan kami jika ada yang ulang tahun bahkan tahun sebelumnya disertai salah satu jenis pohon/tanaman untuk kami tanam disekitar lingkungan kami. Hal itu sekilas sederhana namun belum tentu ada di perusahaan lain serta sangat berdampak besar pada iklim positif perusahaan. Seperti halnya 3 kata “BIG” dalam rangkaian kartu ucapan itu : Big heart, Big dream & Big success. Kalau saya coba interpretasikan di mulai dari Big Dream, setiap orang pasti mempunya mimpi mimpi besar dalam hidup baik dalam pribadi, karir dan keluarga tak terkecuali kita karyawan sebuah perusahaan. Adalah hal penting bagi management sebuah perusahaan untuk mewadahi dan mensinergikan mimpi mimpi besar karyawannya guna memcapai mimpi bersama perusahaan.

Dalam konteks inilah perusahaan dituntut menciptakan program-program guna membentuk budaya keterikatan dan komitmen emosional terhadap organasisi serta tujuan yang hendak dicapainya  atau  yang istilah kerennya “employee engagement”. Ketika seorang karyawan sudah engage dengan perusahaanya maka dia akan bekerja dengan hati “BIG Heart” untuk mewujudkan mimpi-mimpinya yang sinergi dengan mimpi perusahaan lewat produktivitas kerja yang positif. Dan ketika semua itu terjadi dengan cengkraman culture “engagement” yang kuat maka “Big Dream” mimpi –mimpi besar karyawan dan perusahaan akan tercapai. Dan hari itu, tradisi ucapan dan hadiah ulang tahun yang sederhana menjadi sebuah inspirasi dalam menciptakan employee engagement, terima kasih semuanya.

Rasanya diantar ke toilet oleh sang Presiden Direktur

Tak pernah terlintas dalam bayangan saya yang hanya karyawan biasa akan diantar ke toilet oleh seorang presiden direktur sebuah perusahaan multinasional. Namun itulah yang terjadi ketika pertengahan agustus kemarin saya dan management dari perusahaan berkunjung dan meeting di kantor salah satu client jasa penyedia tenaga kerja dalam perusahaan kami.

Sebagai orang yang baru pertama kali ke kantor mereka, kamipun disambut dengan ramah dan diperkenalkan tentang fasilitas, management dan hal-hal lain yang menarik untuk kami ketahui. Setelah hampir 1 jam kami bersosialisasi kami menuju ke ruang meeting. Ditengah perjalanan kami dikenalkan juga dengan presiden direkturnya dan beliau memberikan kartu nama ke kami. Sayang saya belum punya kartu nama seperti mereka..he2x. Cukup singkat lalu beliau kembali ke ruangannya yang kebetulan berada di depan ruang meeting kami.

AC ruangan yang dingin dan 2 botol minuman yang keteguk (he2x..haus banget) membuat saya harus segera bergegas ke toilet. Namun karena nggak tau posisi toiletnya dan tidak ada rambu-rambu sayapun kebingungan. Dari dalam sang Presiden direktur memperhatikan namun saya pura-pura saja nggak tau dan menemui seorang office boy dan bertanya ” maaf pak, toiletnya dimana ya?”

Belum selesai Pak office boy menjawab tiba-tiba sang Presiden Direktur sudah ada dibelakang saya dan berkata ” mari saya yang antar saja pak” sambil mempersilahkan dengan dilanjutkan membukakan pintu keluar sampai akhirnya membukakan pintu depan toilet bahkan sampai ikut masuk  “silahkan pak, maaf saya tinggal ya” ujarnya.

Customer_Service_Leadership_Skills

http://www.aboutleaders.com/

Sejenak saya tercengang bukan karena ingin membanggakan diri diantar oleh presiden direktur namun hal seperti ini sangat langka dalam kehidupan sekarang. Saya merenung seandainya banyak pemimpin-pemimpin kita seperti beliau yang slogan Customer services tidak batasi sekat-sekat level jabatan.

 

Seperti sebuah tulisan dari  George Ambler bahwa meskipun banyak orang yang menjunjung tinggi pangkat dan kedudukan, namun sesungguhnya perilaku-lah yang memenangkan kepercayaan, loyalitas, output dan rasa hormat dari orang lain. Beliau adalah pemimpin yang memiliki karakter, yang menciptakan value-value seperti customer services secara baik dan ikut melakukan secara konsisten bukan hanya slogan perusahaannya dan hanya untuk level jabatan tertentu. Menurut saya dialah sosok pemimpin yang memberikan contoh langsung mengenai perilaku apa saja yang menjadi value bahkan karakter dari perusahaannya untuk semua level dan siapapun itu. Hal itupun ketika saya ceritakan dengan salah satu karyawan disana memang benar adanya. Terima kasih pak, atas pertemuan singkatnya yang menginspirasi kami.

 

Lembur: profesionalisme, parasitisme & humanisme

Suatu hari seorang karyawan yang baru saja dipindah bagian menghadap atasannya dan menanyakan kenapa lemburnya setelah dia pindah dari departemen C ke D kesempatan untuk lembur berkurang sehingga uang lemburnya juga mengalami penurunan padahal menurutnya di departemen sebelumnya dia bisa menerima uang lembur 2x lipat dari gaji pokok.

Lain cerita salah seorang karyawan di departemen A menghadap supervisornya untuk meminta approval lemburan. Secara administrasi karyawan tersebut sudah mencantumkan alasan-alasan kenapa dia lembur dengan jumlah total lembur kurang dari 20 jam per bulan. Namun sang supervisor mengatakan “masak mengerjakan kerjaan begitu saja harus lembur, pokoknya kedepan lemburannya harus dikurangi ya”

overtime-treadmill (1)

Picture from :http://blog.firstreference.com

Ilustrasi cerita diatas mungkin sudah tidak asing lagi dalam dunia kerja, apalagi dalam era dewasa ini disaat tingginya biaya produksi, inflasi, upah pokok, BBM, harga kebutuhan pokok dan berbagai gejolak ekonomi dalam bangsa ini maka beberapa perusahaan dituntut untuk melakukan cost saving dalam berbagai lini. Di sisi karyawan juga adanya keinginan untuk mendapatkan pendapatan yang bisa mengimbangi gejolak ekonomi diatas. Yang terjadi adalah dualisme kepentingan, disinilah peran integritas dan komunikasi humanis antara karyawan dan perusahaan sangat dibutuhkan.

Dari ilustrasi yang pertama adalah contoh kurangnya kedewasaan integrity karyawan, beberapa karyawan menyikapi tuntutan kebutuhan hidup yang tinggi dengan hanya bergantung pada penghasilan sebagai pekerja dan tak jarang menghabiskan waktu untuk mengejar pendapatan tambahan dari lembur.Lebih parahnya lagi jika mereka sudah terbiasa menerima kenikmatan tersebut beranggapan bahwa lembur adalah pendapatan tetap yang harus mereka terima dengan nominal tertentu setiap bulan. Ini seperti parasitisme dalam tubuh perusahaan, padahal kita tahu bahwa lembur adalah variabel yang fluktuatif tergantung dari kebutuhan perusahaan, beban kerja serta efektivitas kerja dari team/individu itu sendiri.

Sedangkan dalam ilustrasi yang kedua, efektivitas komunikasi supervisor dan gaya kepemimpinannya yang tidak mampu mengedukasi bawahannya sehingga mendobrak nilai-nilai humanisme antara perusahaan, atasan dan bawahan. Dalam hubunganya dengan masalah “dapur karyawan” sesuatu yang sebenarnya berada dalam koridor kebenaran bisa menjadi sangat abu-abu dan sensitive, sehingga diperlukan sentuhan komunikasi, edukasi, yang humanis tanpa mengkastakan kepentingan dan jabatan. Hilangnya nilai –nilai humanisme dalam dunia kerja akan menimbulkan parasitisme terbalik dimana perusahaan yang mengeksplorasi tenaga kerja seperti mesin tanpa memperhatikan hak-haknya secara proporsional sesuai undang-undang yang berakibat konflik industrialisasi, hilangnya trust, unmotivated dan penurunan productivity.

Semoga dari ilustrasi diatas membuka ruang pemikiran dan diskusi untuk berusaha menjadi seorang professional dalam bidang dan strata jabatan kita masing-masing khususnya dalam topic lembur di dunia kerja. Pribadi yang professional bukan hanya dari kompetensi pribadi namun bagaimana menempatkan kompetensi pribadi kita dengan naluri humanis dalam batasan integrity kita. (Jakarta, 3 Ramadhan 1434 H).

Mimpi S2 yang Tertunda…

Picture from: http://studentservicesscene.blogspot.com

” Tulislah mimpi-mimpimu dengan pena dan biarkanlah Allah yang menentukan skala prioritas atau menghapusnya” . Sebuah quote yang mungkin familiar tentang “Dream”. Bahkan oleh beberapa guru motivator kita diharuskan bermimpi dan menuliskannya dalam dream book sampai suatu saat nanti mimpi-mimpi itu menjadi mozaik perjalanan kehidupan kita yang indah. Itupun yang saya lakukan dengan istri saya disetiap awal tahun selalu menuliskan mimpi-mimpi kita dalam dream book dan salah satunya yang akan saya sharing adalah mimpi S2 kami.

Tepatnya dibulan Juli 2012 bertepatan dengan gonjang-ganjing  kepindahan saya dari Surabaya ke Jakarta, salah satu alasan  realistis yang saya buat agar saya tidak dipindah adalah keluarga dan  S2. Padahal sebenarnya faktor keluargalah yang membuat saya berat untuk pindah, namun terkesan kurang profesional memang makanya saya menambahkan S2 sebagai alasan kedua. Kondisi saat itu diantara pilihan  saya atau  salah satu teman yang harus pindah sepertinya lebih berat ke saya karena secara usia dan fleksibilitas. Dengan PDnya saya berpikir dengan beralasan S2 maka perusahaan tidak mungkin memindahkanku minimal 2 tahun kedepan dan  sisi lain inilah saat saya bisa mencapai salah satu mimpi saya tahun itu.

Sayapun mendaftar S2 di sebuah universitas swasta di surabaya, walau bukan kampus favorite namun dengan berbagai pertimbangan biaya dan dari segi akreditasi masih bagus. Biaya kuliahpun saya sisihkan dari bisnis sampingan, tidak ambil dari Gaji saya karena saya ingin gaji saya utuh dan tidak ingin istri saya tau karena  saya akan menjadikan wisuda saya nanti sebagai kado spesial  sehingga menjadi surprise untuknya dan keluarga. Namun kenyataan berbicara lain setelah mendekati akhir semester tepatnya dibulan oktober sayapun harus pindah ke jakarta , tidak ada pilihan lain kecuali untuk menghibur diri bahwa ini adalah sebuah amanah dan di role baru nanti di jakarta sayapun harus dapat ilmu yang minimal setara dengan S2 yang saya tinggalkan.

Kemudian baru-baru ini di awal bulan maret 2013 istri saya meminta restu untuk ikut beasiswa S2 DIKNAS dimana nantinya ada semester di luar negeri. Berkecamuklah dalam pikiran bagaimana nanti buah hati kami “Najwa”, waktu untuk keluarga, bisnis  toko jilbab aksesoris dan gamis @safajibastore (he2x..sekalian promosi yach) yang sudah kami bangun dan bayangan-bayangan lainnya yang akhirnya sayapun merestuinya untuk S2. Waktu itu hanya satu doa kami semoga ditunjukkan yang terbaik menurut Allah. Disatu sisi yang mendorong saya merestuinya karena saya yakin dengan profesinya sebagai guru maka S2-nya akan menambah manfaat untuk anak didik dan saya optimis dia bisa mendapatkan beasiswa itu. Ternyata kenyataanpun berbicara lain istri saya dia tidak lolos seleksi.

Dari kedua peristiwa tersebut kami termenung dan bersimpuh dalam sebuah renungan bahwa inilah rencana Allah, Allah merasa secara tanggung jawab, mental dan spiritual belum waktu yang tepat untuk kami menggapai mimpi itu. Dan kami yakin suatu saat di waktu yang tepat  kami akan menggapai mimpi S2 kami yang tertunda ataupun seandainya Allah menghapus mimpi kami tersebut kami berdoa semoga anak dan keturunan kami akan melampaui pencapaian mimpi-mimpi  kami.

Fenomena-fenomena seperti diatas pernah kita dengar bersama dari guru-guru ngaji kita tentang FirmanNYA: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.. dan boleh jadi ( pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Alloh mengetahui sedang kamu tidak mengetahui..” ( QS Al Baqoroh:216). Subhanallah… Allah Maha Sempurna dengan semua rencana Nya, yang tidak akan pernah kita ketahui sebelumnya. Keep spirit & yuk saling sharing pengalaman untuk media belajar kita bersama!!!

Bukan hanya sekedar berbahasa inggris….

Tidak dapat dipungkiri, kemajuan zaman dan industrialiasi global menjadikan bahasa inggris sebagai bahasa pergaulan dunia dalam kategori wajib. Dalam dunia karier professional bahkan sebagai value of competency & akselerator perjalanan karir dari seseorang,walaupun dalam kenyataannya bahasa inggris masyarakat Indonesia pada umumnya masih rendah. Berdasarkan survey EF English Proficiency Index (EF EPI) bahwa indonesia berada di rangking 34 dari 44 negara lainnya. Tak terkecuali bahasa inggris sayapun masih berada dilevel pas-pasan/pasif ..he..he ..he ..pengakuan jujur padahal saya bekerja di perusahaan multinasional dimana kemampuan tersebut mutlak diperlukan.  Hayooo..

Bukanlah mencari alasan karena saya terlahir dari keluarga yang kurang mampu sehingga jangankan  mau kursus bahasa inggris, lulus kuliahpun saya sudah beruntung. Dari seinggrisxjak saya SD sampai saya lulus kuliah saya belum pernah mengenyam bangku kursus seperti teman-teman kebanyakan. Sayapun baru pertama kursus bahasa inggris di EF saat saya sudah bekerja di HM Sampoerna Tbk Makassar ..maklum ..dah bergaji…he2x. Itupun diluar prediksi berdasarkan hasil placement test saya berada di level Intermediate. Satu comment dari Mr Ling (Tentor local lulusan australi) yang waktu interview dengan saya bahwa ada point penting yang membuat saya berada level itu adalah motivasi.

Tak hanya itu bahkan sampai sekarang saya masih mempunyai teman akrab seorang tourist guide dari Slovakia “Joseph harvanek”. Berawal dari rasa iseng ingin menyapa “bule asli” kitapun bisa menjadi sahabat bahkan sampai keluarga kitapun saling bersilaturahmi. Dan yang masih teringat sampai sekarang adalah  saat saya bekerja di HM Sampoerna saya ditunjuk untuk presentasi mewakili teman-teman HR DSSC seluruh regional di depan VP HR Asia (Mrs April Liu)..setress dan lucu juga saat kita (Pak Teguh perwakilan dari HR Plant Pandaan yang ternyata lebih parah dari saya) menghafalkan bahan presentasi dan Bu Lala (HR Services Manager) membantu kami translate saat sesi Tanya jawab.

Dan di akhir 2010 suatu ketika saya telah melewati proses seleksi di sebuah perusahaan telekomunikasi dan step terakhir adalah interview dengan HR Konsultan Kebetulan HR Konsultannya “Expat” dari Brazil Mrs. Marcia Cabral namanya.  Dengan bahasa inggris saya yang seadanya kita bisa berkomunikasi lancar walaupun kadang sesekali dia harus memanggil assisten untuk menerjemahkan bahasaku dalam bahasa inggis dan bahasa dia dalam bahasa Indonesia….he he ..he…namun semuanya sukses dan dia happy denganku. Walaupun saat employee offer saya tidak jadi bergabung karena akhirnya saya pindah juga ke Surabaya dan lebih dekat dengan keluarga. Suatu ketika beliau sms saya “success in your assignment in surabaya & keep contact”.

Dari sharing diatas, mari kita sama beropini tentang sebuah nilai kehidupan bukan hanya soal bahasa inggris. Ada hal lain yang saya dapatkan dari pengalaman diatas yaitu bagaimana kita harus memotivasi diri kita untuk terus belajar dan tidak ada kata terlambat untuk belajar. Dan ternyata” orang bule/ expat” lebih respect/mengapresiasi kita dalam hal motivasi & attitude. Banyak kita mendengar cerita dari teman/atasan kita yang mencibir bahkan menyepelekan seseorang diantara kita hanya karena kemampuan bahasa inggrisnya rendah namun tidak pernah dia melihat bagaimana cara meningkatkannya dan memotivasi dia untuk terus berkarya dari sisi kemapuan lainnya. Mari kita ingat, setiap orang dilahirkan dari latar belakang dan kemampuan yang berbeda namun masalah integritas, motivasi dan attitude kita harus sama kualitasnya. Karena hard skill “kemampuan intelektual/bahasa inggris” kita adalah lingkaran kecil yang dibungkus oleh lingkaran soft skill yang lebih besar, dan terbungkus lagi oleh lingkaran culture and religion. Tunjukkan kalau kita bisa…..semangat!!!

 

Potret pendidikan Tinggi di Indonesia, inspirasi dari seorang sahabat

pendidikan

Diawal tahun kementrian pendidikan nasional mendeklarasikan bahwa perguruan tinggi di Indonesia harus berorientasi untuk daerah 3T (Tertinggal, Terpencil & Terluar). Walaupun kita semua harusnya bertanya kenapa itu baru terpikirkan sekarang? Apakah ini sebagai kompensasi dari trendnya badan hukum perguruan tinggi (swastanisasi)? Bukankah salah satu cita luhur yang tertuang di UUD 1945 kita salah satunya adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa? Sebuah harapan besar bahwa pendidikan tinggi kita seharusnya bisa dirasakan semua lapisan masyarakat manapun. Di satu sisi saat ini banyak perguruan tinggi negeri kita berlomba-lomba menswastanisasi dengan menjadikan diri sebagai badan hukum perguruan tinggi (BHP). Sebagai alasan usaha swadaya mereka melakukan segala bentuk cara untuk memanfaatkan sumberdaya yang ada dalam hal ini calon mahasiswa/mahasiswa sebagai mesin uang. Jangan heran kalau jika biaya masuk perguruan tinggi negeri hampir menyamai bahkan lebih mahal dari pada swasta.

Suatu ketika beberapa bulan lalu seorang sahabat saya yang baru pulang mengabdi untuk dunia pendidikan di kawasan Indonesia bagian timur (program kerjasama) ingin melanjutkan S2 di almamaternya. Informasi awal yang dia dapat bahwa SPP  adalah +/- Rp. 6juta/semester. Setelah melewati tahap administrasi dan seleksi lainnya sahabat saya lolos dan melakukan proses daftar ulang. Alangkah kagetnya dia pada saat daftar ulang petugas administrasi mengatakan bahwa SPP per semester bukan +/- Rp. 6juta akan tetapi menjadi +/- Rp. 9juta/semester.Seakan tidak percaya dengan kondisi keuangan yang sangat minim akhirnya dia berusaha memperjuangkan dengan beradu argumentasi dengan petugas administrasi tersebut. Apa kata petugas administrasi “ maaf mas yang di website itu salah belum terupdate, ini yang sesuai”. Coba kita memposisikan sebagai sahabat saya tersebut, bagaimana menurut pendapat anda?

Yang salut dari karakter sahabat saya, dia mempunyai cita-cita yang serta motivasi yang sangat tinggi untuk melanjutkan S2. Tanpa patah semangat dan dengan perjuangan kerja akhirnya diapun bisa diterima di salah satu perguruan tinggi negeri dengan SPP/semester yang sesuai dengan kemampuannya (jauh lebih murah). Saat sahabat saya melengkapi persyaratan S2nya diapun meminta rekomendasi dari almamaternya. Saat itu dia bertemu dengan Dekan dan Kajur yang melontarkan pertanyaan yang sama “Kenapa kamu tidak kuliah disini?”. Sahabat sayapun menjawab dengan alasan yang dialami sebelumnya. Namun apa jawaban Dekan/Kajurnya “ Ya sudah tidak apa-apa, kuliah dimana saja sama”. Apakah ini jawaban yang solutif menurut anda?

Mungkin ini baru salah satu potret buram dalam dunia pendidikan kita. Kita semua berharap permasalahan pendidikan baik dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi tidak seperti gunung es yang tiba-tiba akan menghancurkan masa depan generasi muda bangsa. Harapannya dengan orientasi 3T perguruan tinggi bisa dirasakan semua strata social masyarakat Indonesia. Pemikiran untuk menciptakan sistem perguruan tinggi  yang sustainable (berkelanjutan) dan terintegrasi menurut saya sangat penting, didalamnya perlu ada nilai keadilan, transparansi, reward, integrity, moral dan kebangsaan yang termanifestasi dalam segala bentuk kerangka akademik. Mari kita kawal pendidikan di indonesia untuk mewujudkan masa depan bangsa yang lebih baik. Kalau bukan kita siapa lagi? (By: Rochman Hidayat: 12 – 9 2012)

Designed for LogosDatabase.com in Collaboration with stock picks and Things to do in Los Angeles and Headquarters