Tip selalu optimis, seharusnya melihat saat masa kecil kita

“Aku ingin menjadi president”

“Aku ingin menjadi astronaut”

“Aku ingin menjadi Spiderman”

aku-punya-mimpi

Itulah beberapa kalimat obsesi penuh optimisme tinggi saat kita kecil. Kata-kata yang mungkin sulit kita ucapkan saat kita dewasa sekarang. Masa kecil kita dulu penuh spirit optimisme, saat itu kita selalu memandang setiap peristiwa dari sudut pandang positif. Dalam contoh kecilpun bagaimana saat kita belajar merangkak, berdiri, berjalan dan berlari berulang-ulang terjatuh tapi tidak pernah jera dan akhirnya kita bisa melalui itu semua.

Dampak aura positif itupun sangat luar biasa, ingatlah saat menceritakan cita–cita kecil kita kepada teman atau orang dewasa, semakin mustahil cita–cita tersebut maka semakin bangga kita terhadap diri kita. Seakan akan cita-cita itu memang benar akan terwujud walaupun ditanggapi tawa oleh orang yang mendengarkan tetapi kita tetap senang. Begitulah pemikiran kita saat kecil, penuh optimisme, tidak ada ragu, takut, mustahil karena kita percaya semuanya bisa terjadi. Tokoh father of positive psychologyMartin Seligman” mengatakan bahwa manusia “pada dasarnya happy”. Seandainya saat kecil kita sudah bisa bicara mungkin kita akan mengatakan pengalaman buruk yang menimpa sebelumnya sebagai sesuatu yang bersifat sementara dan bisa dihindari di masa mendatang. Dan kita akan mengatakan secara spesifik bahwa sesungguhnya tidak semua dimensi dari kejadian/peristiwa itu merugikan,  pasti ada celah positifnya.

Saat tumbuh dewasa, rasionalitas logika, rasa aman, emosi, keadaan, lingkungan & aturan mulai perlahan merubah cara berpikir kita. Optimisme perlahan-lahan menjadi keraguan, cita – cita yang awalnya mungkin terwujud, hanyalah tinggal cita – cita. Mental pesimis pun menjadi sidrom anak bangsa. Lihatlah contoh kecil kalau kita mendengar lagu yang didendangkan segelintir pengemis jalanan, ada statement menarik yaitu ”dari pada kita nodong/nyolong lebih baik mengamen saja”. Di contoh lain kita mungkin pernah temui bagaimana segelintir orang tua mengatakan ” sudahlah, buat apa kuliah tinggi, biaya mahal kalau akhinya jadi penganguran”. Banyak Potret di bangsa ini seperti krisis multidimensional, Korupsi yang menggila dan potret-potret lainnya bagaikan fenomena gunung es yang siap menggerogoti mental anak bangsa. Pertanyaan besarnya  apakah sampai separah itu pesimesme yang melanda bangsa ini???

Kiranya perlu kita hadirkan sosok kecil kita yang optimis diri kita sebagai anak bangsa di masa-masa pelik seperti sekarang, ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk itu, diantaranya:

–  Pertahankan pikiran postif kita yakinlah bahwa Allah hanya akan menambahkan nikmatNya pada orang yang mau mensyukuri nikmatNya meskipun nikmat itu sedikit

–  Tentukan target secara tepat berdasarkan kelebihan & kelemahan kita

–  Lihatlah keberhasilah jangka pendek dari target yang besar dengan memecah target besar tersebut kedalam step-step target kecil

–  Tawakkal kepada Allah dengan upaya memperbaiki target dan strategi sebagai satu kesatuan proses

–  Sayangi dan hargai diri sendiri dan orang lain bahwa kita diciptakan dengan kelebihan dan kelemahan yang unik dari yang lainnya untuk mencapai kesuksesan yang berbeda pula

Marilah kita semua menanamkan keberanian & keyakinan akan cita – cita yang kita miliki. Semustahil apapun cita – cita itu dengan modal keyakinan, pasti terbuka jalan untuk mencapainya. Entah bagaimana cara/prosesnya selama kita buang rasa takut & keraguan yakinlah semua yang kita inginkan pasti akan dibuka jalan olehNYA. Semoga dengan kita belajar dari optimisme masa kecil, kita bisa menjadi anak bangsa yang optimis untuk mengahadapi tantangan dan mempersiapkan kehidupan masa depan yang lebih baik. Amien!

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *