Diberi tugas lebih banyak dan lebih berat oleh atasan, adakah yang salah?

“Menurut saya tidak benar jika atasan memberikan tambahan pekerjaan /penugasan dengan kewenangan yang lebih tinggi secara sementara kepada bawahan tanpa kenaikan gaji atau promosi?”

Begitulah penyataan yang dilontarkan salah satu Karyawan dalam ruang diskusi antara perusahaan dan Karyawan di kantor kami. Penyataan yang mungkin bisa saja terjadi pada kita sendiri dan bahkan sebagian besar Karyawan keluh kesahkan. Dalam pengembangan sumberdaya manusia biasanya hal tersebut dikenal sebagai job enlargement (pekerjaan yang lebih banyak secara kuantitas) dan job enrichment (pekerjaan yang lebih tinggi secara level tanggungjawabnya dari pekerjaan sebelumnya secara kualitas).

Menanggapi penyataan tersebut sayapun coba menyampaikan bahwa tidak ada yang salah dalam mekanisme tersebut dan sebenarnya hal itu adalah bagian proses penting dalam pengembangan karyawan atau succession planning. Kenapa harus dilakukan, cobalah kita lihat dalam Persepektif yang berbeda.

  1. Karyawan

Kita harus ingat mashlow mengatakan bahwa “pada dasarnya setiap Karyawan mempunyai kebutuhan untuk aktualisasi diri” sehingga dengan adanya pekerjaan tambahan, penugasan baru, tantangan baru maka menjadi sarana perusahaan dan atasan untuk memenuhi kebutuhan Karyawan tersebut.

Dalam bukunya Robbins juga menyatakan “dimensi kepuasan adalah kesempatan untuk berkembang” yang ini juga sejalan dengan Herzberg Motivator teory bahwa “faktor yang mendorong motivasi Karyawan adalah adanya tantangan dalam pekerjaan”.  Di era sekarang ini kedua faktor tersebut menjadi perhatian utama selain gaji atau benefit. Artinya dari aspek Karyawan tidak ada yang dirugikan karena hal tersebut merupakan bagian dari rencana pengembangan yang sudah di design oleh bagian sumber daya manusia sehingga kita harus tetap positif thinking dan menjalaninya dengan effort yang maksimal. Kita tentu percaya bahwa kesempatan hanya datang pada mereka yang siap dari pada mereka yang menunggu dan berdiam diri.

  • Atasan

Siapa sih atasan yang tidak ingin memilih orang yang tepat dalam menempati posisi yang diharapkan kedepannya di sebuah organisasi? Sehingga dalam proses tersebut sangat wajar jika atasan perlu mempersiapkan sebelumnya apakah memang karyawan tersebut mampu dan siap terhadap target baru nanti kedepannya.  Seorang atasan ingin juga menguji kematangan karyawan tidak hanya dalam aspek pekerjaan saja tetapi dari aspek mentalitas seperti time managementnya, kualitas pengambilan keputusan dan yang paling mendasar adalah apakah karyawan tersebut melihat kesempatan yang diberikan sebagai sarana hitung hitungan cost and benefit semata atau justru melihatnya sebagai sebuah peluang untuk bertumbuh (growth mindset).

Dalam prosesnya tentunya kedua sudut pandang diatas akan optimal jika didukung secara sistem di perusahaan sendiri sehingga prosesnya berjalan fairness, transparan dan terukur.  Kita bisa lihat Perusahaan menggunakan alat bantu pengukurannya seperti melalui psikotest, assessment, presentesi improvemet, potret kinerja dan 360 feedback sebelum karyawan tersebut diberikan penugasan sebagai satu kesatuan framework. Kemudian yang paling penting terbekalinya karyawan dan atasan dengan kompetensi yang dibutuhkan dan adanya sarana komunikasi berupa kejelasan target, time frame dan konsekuensi dari hasil akhir penugasan tersebut.

Sayapun menutup diskusi tersebut dengan ajakan untuk melihat bahwa job enlargement dan Job enrichment yang dberikan atasan atau perusahaan adalah sebuah kesempatan yang tidak akan datang dua kali dan tidak untuk orang dengan profil rata-rata (hanya untuk orang -orang pilihan).

You may also like...

2 Responses

  1. Avatar Enggar priya sambodo says:

    Sebuah tulisan yang mencerahkan dan memberikan wawasan dari beberapa sudut pandang yang berbeda. Apakah di posisi A atau posisi B dan outputnya akan berbeda tergantung dengan latar belakangnya. Apakah kita berpikir seperti orang kebanyakan atau membuat sebuah gagasan baru. Ide/gagasan tidak pernah hilang atau terlupakan hanya saja kapan bisa teralisasi butuh proses dan waktu.

  2. Avatar Siti Chul says:

    Setuju sama pendapat penulis, juga mungkin bisa dilihat dari perspektif bahwa pekerjaan yang diberikan oleh atasan itu hanya untuk orang yg dia percaya dan yakin akan mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Emang secara natural manusia tempat komplain, memang gak akan mudah merubah pandangan itu. hehe..
    But at least we try to switch it to positive way.

Leave a Reply to Siti Chul Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.