Kenapa harus lembur, profesionalisme, parasitisme atau humanisme?

Suatu hari seorang karyawan yang baru saja dipindah bagian menghadap atasannya dan menanyakan kenapa lemburnya setelah dia pindah dari departemen C ke D kesempatan untuk lembur berkurang sehingga uang lemburnya juga mengalami penurunan padahal menurutnya di departemen sebelumnya dia bisa menerima uang lembur 2x lipat dari gaji pokok.

Lain cerita salah seorang karyawan di departemen A menghadap supervisornya untuk meminta approval lemburan. Secara administrasi karyawan tersebut sudah mencantumkan alasan-alasan kenapa dia lembur dengan jumlah total lembur kurang dari 20 jam per bulan. Namun sang supervisor mengatakan “masak mengerjakan kerjaan begitu saja harus lembur, pokoknya kedepan lemburannya harus dikurangi ya”

Kenapa harus lembur -alasan lembur - permasalahan lembur

Source:http://blog.firstreference.com

Ilustrasi cerita diatas mungkin sudah tidak asing lagi dalam dunia kerja, apalagi dalam era dewasa ini disaat tingginya biaya produksi, inflasi, upah pokok, BBM, harga kebutuhan pokok dan berbagai gejolak ekonomi dalam bangsa ini maka beberapa perusahaan dituntut untuk melakukan cost saving dalam berbagai lini. Di sisi karyawan juga adanya keinginan untuk mendapatkan pendapatan yang bisa mengimbangi gejolak ekonomi diatas. Yang terjadi adalah dualisme kepentingan, disinilah peran integritas dan komunikasi humanis antara karyawan dan perusahaan sangat dibutuhkan.

Dari ilustrasi yang pertama adalah contoh kurangnya kedewasaan integrity karyawan, beberapa karyawan menyikapi tuntutan kebutuhan hidup yang tinggi dengan hanya bergantung pada penghasilan sebagai pekerja dan tak jarang menghabiskan waktu untuk mengejar pendapatan tambahan dari lembur.Lebih parahnya lagi jika mereka sudah terbiasa menerima kenikmatan tersebut beranggapan bahwa lembur adalah pendapatan tetap yang harus mereka terima dengan nominal tertentu setiap bulan. Ini seperti parasitisme dalam tubuh perusahaan, padahal kita tahu bahwa lembur adalah variabel yang fluktuatif tergantung dari kebutuhan perusahaan, beban kerja serta efektivitas kerja dari team/individu itu sendiri.

Sedangkan dalam ilustrasi yang kedua, efektivitas komunikasi supervisor dan gaya kepemimpinannya yang tidak mampu mengedukasi bawahannya sehingga mendobrak nilai-nilai humanisme antara perusahaan, atasan dan bawahan. Dalam hubunganya dengan masalah “dapur karyawan” sesuatu yang sebenarnya berada dalam koridor kebenaran bisa menjadi sangat abu-abu dan sensitive, sehingga diperlukan sentuhan komunikasi, edukasi, yang humanis tanpa mengkastakan kepentingan dan jabatan. Hilangnya nilai –nilai humanisme dalam dunia kerja akan menimbulkan parasitisme terbalik dimana perusahaan yang mengeksplorasi tenaga kerja seperti mesin tanpa memperhatikan hak-haknya secara proporsional sesuai undang-undang yang berakibat konflik industrialisasi, hilangnya kepercayaan, tidak ada motivasi dan penurunan produktivitas.

Semoga dari ilustrasi diatas membuka ruang pemikiran dan diskusi untuk berusaha menjadi seorang professional dalam bidang dan strata jabatan kita masing-masing khususnya dalam topik lembur di dunia kerja. Pribadi yang professional bukan hanya dari kompetensi pribadi namun bagaimana menempatkan kompetensi pribadi kita dengan naluri humanis dalam batasan integrity kita.

You may also like...

6 Responses

  1. syahid77 says:

    Mantappp..

  2. Tulisan yang menarik… izin copas ya!!!

  3. SlamRiyadi says:

    Jadi menurut Mas Rochman, seharusnya gimana? Kontradiksi antara loyalitas, integritas, dan kebutuhan hidup karyawan ini lho… Piye?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *